Mengenal Pajak Subjektif Dan Pajak Objektif Serta Perbedaannya

Mengenal Pajak Subjektif Dan Pajak Objektif Serta Perbedaannya

PT Jovindo Solusi Batam merupakan Perusahaan yang melayani pada bidang jasa yang berkaitan sama perpajakan, kami menyediakan layanan jasa yang berupa jasa akuntansi dan juga konsultasi permasalahan. Artikel kali ini, PT Jovindo Solusi Batam akan membahas Mengenal Pajak Subjektif Dan Pajak Objektif Serta Perbedaannya. Berikut pembahasannya.

Definisi Pajak Subjektif

Pajak subjektif merupakan pengenaan pajak ke WP terhadap dasar orang pribadi ataupun badan sebagai pihak yang berkewajiban untuk malakukan kegiatan perpajakannya.

Subjek pajak menjadi pihak yang mendapat hak perpajakan serta yang akan dikenai pajak. Berdasar pada Pasal 2A UU No. 36 Tahun 2008 terkait Pajak Penghasilan (PPh) dijelaskan bahwa maksud dari subjek pajak yaitu:

  • Orang pribadi (OP) serta untuk warisan yang dinyatakan masih belum terbagi untuk dikategorikan sudah menggantikan yang berhak
  • Badan (dalam negeri atau luar negeri)
  • Bentuk Usaha Tetap (BUT)

Contoh Pajak Subjektif

Contoh pajak subjektif yang mudah ditemui adalah Pajak Penghasilan (PPh). PPh adalah pajak yang dikenakan ke penghasilan individu atau entitas yang mendapat pendapatan dari berbagai sumber, yakni seperti gaji, bisnis, investasi, ataupun kegiatan lainnya. Besarannya bervariasi tergantung pada jumlah penghasilan yang akan diterima.

Definisi Pajak Objektif

Pajak objektif merupakan sebuah jenis pajak yang besarnya ditentukan dari karakteristik ataupun nilai objek pajak itu sendiri, bukan karena karakteristik subjek yang membayar pajak. Dalam pajak ini, tarif pajak biasanya akan ditetapkan berdasar pada nilai ataupun jenis objek tertentu yang dikenai pajak, yakni seperti penjualan barang ataupun properti, dengan tanpa memperhitungkan keadaan ataupun status dari individu atau entitas yang terlibat di transaksi itu.

Pajak objektif adalah semacam pajak yang bergantung sama nilai ataupun jenis objek pajaknya, dan tarif pajaknya telah ditetapkan terlepas dari siapa yang akan membayar pajak itu.

Contoh Pajak Objektif

  • Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

PPN merupakan sebuah pajak yang dibebankan ke WP OP maupun badan yang sudah berstatus Pengusaha Kena Pajak (PKP) terhadap transaksi jual beli barang ataupun jasa.

  • Pajak Kekayaan

Pajak kekayaan akan dikenakan ke individu ataupun entitas yang memiliki kekayaan tertentu, yakni seperti properti, investasi, ataupun aset lainnya. Pajak ini biasa dihitung dengan berdasarkan pada nilai kekayaan yang dimiliki subjek itu.

  • Pajak Warisan dan Hibah

Pajak ini akan dikenakan ke penerimaan warisan ataupun hibah tertentu oleh individu ataupun entitas. Besarannya akan bergantung ke nilai dari warisan ataupun hibah yang diterima.

  • Pajak Penjualan Barang Mewah

Pajak ini akan dikenakan ke pembelian barang-barang mewah, yakni seperti mobil mewah, perhiasan, yacht, serta barang-barang lain yang mempunyai nilai tinggi. Besarannya biasanya akan ditetapkan sebagai persentase dari nilai barang yang akan dibeli.

  • Pajak Penjualan Properti

Pajak ini akan dikenakan ke penjualan properti, baik itu sebuah tanah atau bangunan. Besarannya dapat bervariasi dengan berdasarkan pada nilai transaksi serta peraturan perpajakan setempat.

Kewajiban Pajak Objektif

Kewajiban dari pajak objektif adalah tanggung jawab dari individu ataupun entitas untuk membayar pajak dengan berdasarkan pada karakteristik ataupun nilai objek pajak, bukan berdasarkan pada karakteristik subjek yang akan membayar pajak. Dalam kewajiban pajak ini, subjek yang terlibat di transaksi ataupun mempunyai objek pajak itu memiliki tanggung jawab dalam membayar pajak sesuai ketentuan yang berlaku.

Seperti, dalam pajak penjualan, kewajiban pajak objektif terletak di pembeli barang ataupun jasa yang harus membayar pajak terhadap pembelian. Begitu pun di pajak properti, pemilik properti mempunyai kewajiban untuk membayar pajak pada kepemilikan terhadap properti.

Kewajiban pajak objektif muncul karena regulasi perpajakan yang menetapkan kalau objek tertentu akan dikenakan pajak sesuai aturan yang berlaku, dan juga subjek yang terlibat di objek pajak itu mempunyai tanggung jawab untuk membayarkan pajaknya.

Perbedaan antara Pajak Subjektif dan Pajak Objektif

  1. Dasar Perhitungan
    • Pajak Subjektif: Besarnya pajak ini bergantung ke karakteristik ataupun keadaan subjek yang akan dikenai pajak, yakni seperti penghasilan, kekayaan, ataupun transaksi spesifik subjek.
    • Pajak Objektif: Besarnya pajak ini ditentukan dari nilai ataupun karakteristik objek pajak itu sendiri, tidak dipengaruhi karakteristik subjek yang akan membayar pajak.
  2. Contoh Pajak
    • Pajak Subjektif: PPh, pajak kekayaan, pajak warisan, serta pajak hadiah.
    • Pajak Objektif: PPN, pajak penjualan, pajak properti, pajak terhadap transaksi keuangan, serta pajak terhadap konsumsi barang mewah.
  3. Faktor Penentu Besarnya Pajak
    • Pajak Subjektif: Besarnya pajak ini bergantung sama faktor-faktor seperti penghasilan, kekayaan, ataupun transaksi spesifik subjek yang akan membayar pajak.
    • Pajak Objektif: Besarnya pajak ini ditentukan nilai ataupun jenis objek pajak itu, tanpa memperhitungkan keadaan ataupun karakteristik dari subjek yang akan membayar pajak.
  4. Tanggung Jawab Pemenuhan Kewajiban Pajak
    • Pajak Subjektif: Kewajiban pajak ini ada di subjek yang mempunyai karakteristik atau melakukan transaksi yang akan dikenai pajak.
    • Pajak Objektif: Kewajiban pajak ini ada di pemilik objek pajak atau pihak yang terlibat didalam transaksi yang akan dikenakan pajak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *